ya Allah jadikanlah aku orang yang mulia dihadapanmu dan jadikanlah aku orang yang sukses.
Translate this site to other languages

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

  • fisiologi tumbuhan

    1.Akar
    Akar adalah bagian pokok di samping batang dan daun bagi tumbuhan yang tubuhnya telah merupakan kormus.


    Akar yang ditumbuhkan dalam hidroponik.


    Sifat-sifat akar:
    Merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalam tanah, dengan arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air (hidrotrop), meninggalkan udara dan cahaya
    Tidak berbuku-buku, jadi juga tidak beruas dan tidak mendukung daun-daun atau sisik-sisik maupun bagian-bagian lainnya
    Warna tidak hijau, biasanya keputih-putihan atau kekuning-kuningan
    Tumbuh terus pada ujungnya, tetapi umumnya pertumbuhannya masih kalah pesat jika dibandingkan dengan bagian permukaan tanah
    Bentuk ujungnya seringkali meruncing, hingga lebih mudah untuk menembus tanah
    Akar== Jenis akar == Secara umum, ada dua jenis akar yaitu:
    Akar serabut. Akar ini umumnya terdapat pada tumbuhan monokotil. Walaupun kadang-kadang, tumbuhan dikotil juga memilikinya (dengan catatan, tumbuhan dikotil tersebut dikembangbiakkan dengan cara cangkok, atau stek). Fungsi utama akar serabut adalah untuk memperkokoh berdirinya tumbuhan.
    Akar tunggang. Akar ini umumnya terdapat pada tumbuhan dikotil. Fungsi utamanya adalah untuk menyimpan makanan. #sebagai contoh ; wortel, ubi dan sebagainya dalam bentuk umbi-umbian.
    [[Berkas:hanya ! ?]]== Fungsi akar == Fungsi akar bagi tumbuhan:
    Untuk menyokong dan memperkokoh berdirinya tumbuhan di tempat hidupnya
    Untuk menyerap air dan garam-garam mineral (zat-zat hara) dari dalam tanah
    Mengangkut air dan zat-zat makanan yang sudah diserap ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan yang memerlukan
    Pada beberapa macam tumbuhan ada yang berfungsi sebagai alat respirasi, misalnya tumbuhan bakau
    Pada beberapa jenis tumbuhan, ada yang berguna sebagai tempat menyimpan cadangan makanan atau sebagai alat reproduksi vegetatif. Misalnya wortel yang memiliki akar tunggang yang membesar, berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan. Pada tumbuhan sukun, dari bagian akar dapat tumbuh tunas yang akan tumbuh menjadi individu baru.
    halaman ini mendapat rekor yaitu REKOR MENULIS Terbanyak Pada; 20 Agustus 2006.
    [sunting]Modifikasi akar

    Akar napas. Akar naik ke atas tanah, khususnya ke atas air seperti pada genera Mangrove (Avicennia, Soneratia).
    Akar gantung. Akar sepenuhnya berada di atas tanah. Akar gantung terdapat pada tumbuhan epifit Anggrek.
    Akar banir. Akar ini banyak terdapat pada tumbuhan jenis tropik.
    Akar penghisap. Akar ini terdapat pada tumbuhan jenis parasit seperti benalu
    2.Apoplas
    Apoplas adalah suatu kontinum tak hidup yang terbentuk melalui jalur ekstraseluler yang disediakan oleh matriks kontinu dinding sel dan berfungsi untuk mengangkut air dari akar ke xilem.[1] Definisi lainnya menyebutkan bahwa apoplas adalah suatu sistem yang menyangkut antara dinding sel yang saling berhubungan dengan unsur xilem berisi air.[2] Proses penyerapan air dan zat hara dalam akar tumbuhan dapat melalui dua jalan, yaitu di luar pembuluh dan di dalam pembuluh.[2] Pengangkutan di luar pembuluh terbagi menjadi apoplas dan simplas.[3] Apoplas meliputi semua dinding sel pada korteks akar (kecuali dinding endodermis dan eksodermis dengan pita Kaspariannya karena kedua jaringan tersebut tidak permeabel terhadap air), semua trakeid dan pembuluh pada xilem, semua dinding sel daun, floem, dan sel lain.[1] Kecuali pada pita Kaspari, perambatan cairan dari bawah ke bagian atas tumbuhan dapat terjadi seluruhnya melalui apoplas, terutama di xilem
    3.Asam jasmonat
    Asam jasmonat adalah senyawa organik yang terbentuk melalui biosintesis dari asam linoleat-bebas oleh enzim lipoksigenase dan berfungsi menghambat pertumbuhan beberapa bagian tumbuhan tertentu dan sangat kuat mendorong terjadinya penuaan daun.[1] Karena fungsinya ini, asam jasmonat (dan turunannya) termasuk ke dalam hormon tumbuhan. Senyawa ini dan metil esternya (metil jasmonat) terdapat pada beberapa spesies tumbuhan dan di dalam minyak melati.[2] Jasmonat sudah ditemukan pada 150 suku dan 206 spesies (termasuk cendawan, lumut, dan paku-pakuan) sehingga diduga asam jasmonat lazim terdapat pada tumbuhan.[1]
    Asam jasmonat pertama kali diisolasi dari fungi Lasiodiplodia theobromae dan kemudian dalam bentuk metil ester serta sebagai senyawa memicu penuaan pada ulat kayu Artemisia absinthium.[3] Senyawa yang bersifat volatil (mudah menguap) ini juga dapat ditemukan pada minyak dari Jasminium grandiforum L. dan Rosmarius officinalis
    4.Auksin
    Auksin adalah zat hormon tumbuhan yang di temukan pada ujung batang, akar, dan pembentukan bunga yang berfungsi untuk sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. Auksin berperan penting dalam pertumbuhan tumbuhan. Peran auksin pertama kali ditemukan oleh ilmuwan Belanda bernama Fritz Went (1903-1990)
    5.Brasinosteroid
    Brasinosteroid (BR) adalah hormon endogen berupa steroid yang dapat memacu pertumbuhan dan dapat ditemukan pada biji, serbuk sari, dan jaringan vegetatif, serta berfungsi pada konsetrasi nanomolar untuk memengaruhi perbesaran dan perbanyakan sel.[1][2] Brasinosteroid juga berinteraksi dengan hormon tanaman yang lain contohnya auksin serta faktor lingkungan untuk meregulasi secara keseluruhan bentuk dan fungsi tanaman.[1] Fungsinya yang penting bagi tumbuhan adalah untuk perpanjangan organ, diferensiasi jaringan pembuluh, kesuburan, perkembangan daun, dan respon terhadap cahaya.[2] Brasinosteroid pertama kali diisolasi dari serbuk sari tumbuhan mustard, namun ini diketahui terdapat juga pada beberapa spesies lainnya.[3] Salah satu contoh brasinosteroid adalah kastasteron yang ada pada tunas kacang polong dan berfungsi dalam proses pemanjangan tunas
    6.Daun
    Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau (mengandung klorofil) dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya menjadi energi kimia.
    Daftar isi [sembunyikan]
    1 Morfologi
    2 Fungsi
    2.1 Epidermis
    2.2 Jaringan mesofil
    2.2.1 Jaringan bunga karang
    2.3 Berkas pembuluh angkut
    2.4 Stomata
    [sunting]Morfologi

    Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing panjang.
    Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus), dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air.


    Daun segar (kiri) dan tua. Daun tua telah kehilangan klorofil sebagai bagian dari penuaan.
    Warna hijau pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa pigmen yang berperan dalam menyeleksi panjang gelombang cahaya yang energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya karoten (berwarna jingga), xantofil (berwarna kuning), dan antosianin (berwarna merah, biru, atau ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas pada daun yang gugur).
    [sunting]Fungsi

    Tempat terjadinya fotosintesis.
    pada tumbuhan dikotil, terjadinya fotosintesis di jaringan parenkim palisade. sedangkan pada tumbuhan monokotil, fotosintesis terjadi pada jaringan spons.
    Sebagai organ pernapasan.
    Di daun terdapat stomata yang befungsi sebagai organ respirasi (lihat keterangan di bawah pada Anatomi Daun).
    Tempat terjadinya transpirasi.
    Tempat terjadinya gutasi.
    Alat perkembangbiakkan vegetatif.
    Misalnya pada tanaman cocor bebek (tunas daun).

    Artikel ini tidak memiliki kategori.
    Tolong bantu Wikipedia untuk menambahkan kategori. Tag ini diberikan pada 2011.
    == Anatomi ==


    Diagram anatomi bagian dalam daun.
    [sunting]Epidermis
    Epidermis pada daun merupakan lapisan sel hidup terluar. Jaringan ini terbagi menjadi epidermis atas dan epidermis bawah, berfungsi melindungi jaringan yang terdapat di bawahnya.
    [sunting]Jaringan mesofil
    Jaringan Tiang, jaringan ini mengandung banyak kloroplas yang berfungsi dalam proses pembuatan makanan
    [sunting]Jaringan bunga karang
    Disebut juga jaringan spons karena lebih berongga bila dibandingkan dengan jaringan palisade, berfungsi sebagai tempat menyimpan cadangan makanan.
    [sunting]Berkas pembuluh angkut
    Terdiri dari xilem atau pembuluh kayu dan floem atau pembuluh tapis, pada tumbuhan dikotil keduanya dipisahkan oleh kambium.
    Pada akar, Xilem berfungsi mengangkut air dan mineral menuju daun. Pada batang, xilem berfungsi sebagai sponsor penegak tumbuhan
    Floem berfungsi mentransfor hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan
    [sunting]Stomata
    Stoma (jamak: stomata) berfungsi sebagai organ respirasi. Stoma mengambil CO2 dari udara untuk dijadikan bahan fotosintesis, mengeluarkan O2 sebagai hasil fotosintesis. Stoma ibarat hidung kita dimana stoma mengambil CO2 dari udara dan mengeluarkan O2, sedangkan hidung mengambil O2 dan mengeluarkan CO2. Stoma terletak di epidermis bawah. Selain stoma, tumbuhan tingkat tinggi juga bernafas melalui lentisel yang terletak pada batang.
    7.Dormansi
    Dormansi adalah suatu keadaan berhenti tumbuh yang dialami organisme hidup atau bagiannya sebagai tanggapan atas suatu keadaan yang tidak mendukung pertumbuhan normal. Dengan demikian, dormansi merupakan suatu reaksi atas keadaan fisik atau lingkungan tertentu. Pemicu dormansi dapat bersifat mekanis, keadaan fisik lingkungan, atau kimiawi.
    Banyak biji tumbuhan budidaya yang menunjukkan perilaku ini. Penanaman benih secara normal tidak menghasilkan perkecambahan atau hanya sedikit perkecambahan. Perlakuan tertentu perlu dilakukan untuk mematahkan dormansi sehingga benih menjadi tanggap terhadap kondisi yang kondusif bagi pertumbuhan. Bagian tumbuhan yang lainnya yang juga diketahui berperilaku dorman adalah kuncup.

    PENYEBAB TERJADINYA DORMANSI
    Benih yang mengalami dormansi ditandai oleh :
    Rendahnya / tidak adanya proses imbibisi air.
    Proses respirasi tertekan / terhambat.
    Rendahnya proses mobilisasi cadangan makanan.
    Rendahnya proses metabolisme cadangan makanan.
    Kondisi dormansi mungkin dibawa sejak benih masak secara fisiologis ketika masih berada pada tanaman induknya atau mungkin setelah benih tersebut terlepas dari tanaman induknya. Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji dan keadaan fisiologis dari embrio atau bahkan kombinasi dari kedua keadaan tersebut.
    Secara umum menurut Aldrich (1984) Dormansi dikelompokkan menjadi 3 tipe yaitu :
    Innate dormansi (dormansi primer)
    Induced dormansi (dormansi sekunder)
    Enforced dormansi
    Sedangkan menurut Sutopo (1985) Dormansi dikelompokkan menjadi 2 tipe yaitu :
    Dormansi Fisik, dan
    Dormansi Fisiologis
    Dormansi Fisik disebabkan oleh pembatasan struktural terhadap perkecambahan biji, seperti kulit biji yang keras dan kedap sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas-gas ke dalam biji.

    Beberapa penyebab dormansi fisik adalah :
    Impermeabilitas kulit biji terhadap air
    Benih-benih yang termasuk dalam type dormansi ini disebut sebagai "Benih keras" karena mempunyai kulit biji yang keras dan strukturnya terdiri dari lapisan sel-sel serupa palisade berdinding tebal terutama di permukaan paling luar. Dan bagian dalamnya mempunyai lapisan lilin dan bahan kutikula.
    Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio
    Disini kulit biji cukup kuat sehingga menghalangi pertumbuhan embrio. Jika kulit biji dihilangkan, maka embrio akan tumbuh dengan segera.
    Permeabilitas yang rendah dari kulit biji terhadap gas-gas
    Pada dormansi ini, perkecambahan akan terjadi jika kulit biji dibuka atau jika tekanan oksigen di sekitar benih ditambah. Pada benih apel misalnya, suplai oksigen sangat dibatasi oleh keadaan kulit bijinya sehingga tidak cukup untuk kegiatan respirasi embrio. Keadaan ini terjadi apabila benih berimbibisi pada daerah dengan temperatur hangat.
    Dormansi Fisiologis, dapat disebabkan oleh sejumlah mekanisme, tetapi pada umumnya disebabkan oleh zat pengatur tumbuh, baik yang berupa penghambat maupun perangsang tumbuh
    Beberapa penyebab dormansi fisiologis adalah :
    Immaturity Embrio
    Pada dormansi ini perkembangan embrionya tidak secepat jaringan sekelilingnya sehingga perkecambahan benih-benih yang demikian perlu ditunda. Sebaiknya benih ditempatkan pada tempe-ratur dan kelembaban tertentu agar viabilitasnya tetap terjaga sampai embrionya terbentuk secara sempurna dan mampu berkecambah.
    After ripening
    Benih yang mengalami dormansi ini memerlukan suatu jangkauan waktu simpan tertentu agar dapat berkecambah, atau dika-takan membutuhkan jangka waktu "After Ripening". After Ripening diartikan sebagai setiap perubahan pada kondisi fisiologis benih selama penyimpanan yang mengubah benih menjadi mampu berkecambah. Jangka waktu penyimpanan ini berbeda-beda dari beberapa hari sampai dengan beberapa tahun, tergantung dari jenis benihnya.
    Dormansi Sekunder
    Dormansi sekunder disini adalah benih-benih yang pada keadaan normal maupun berkecambah, tetapi apabila dikenakan pada suatu keadaan yang tidak menguntungkan selama beberapa waktu dapat menjadi kehilangan kemampuannya untuk berkecambah. Kadang-kadang dormansi sekunder ditimbulkan bila benih diberi semua kondisi yang dibutuhkan untuk berkecambah kecuali satu. Misalnya kegagalan memberikan cahaya pada benih yang membutuhkan cahaya.
    Diduga dormansi sekunder tersebut disebabkan oleh perubahan fisik yang terjadi pada kulit biji yang diakibatkan oleh pengeringan yang berlebihan sehingga pertukaran gas-gas pada saat imbibisi menjadi lebih terbatas.
    Dormansi yang disebabkan oleh hambatan metabolis pada embrio.
    Dormansi ini dapat disebabkan oleh hadirnya zat penghambat perkecambahan dalam embrio. Zat-zat penghambat perkecambahan yang diketahui terdapat pada tanaman antara lain : Ammonia, Abcisic acid, Benzoic acid, Ethylene, Alkaloid, Alkaloids Lactone (Counamin) dll.
    Counamin diketahui menghambat kerja enzim-enzim penting dalam perkecambahan seperti Alfa dan Beta amilase.
    Tipe dormansi lain selain dormansi fisik dan fisiologis adalah kombinasi dari beberapa tipe dormansi. Tipe dormansi ini disebabkan oleh lebih dari satu mekanisme. Sebagai contoh adalah dormansi yang disebabkan oleh kombinasi dari immaturity embrio, kulit biji indebiscent yang membatasi masuknya O2 dan keperluan akan perlakuan chilling.
    Cara praktis meme-cahkan dormansi pada benih tanaman pangan.
    Untuk mengetahui dan membedakan/memisahkan apakah suatu benih yang tidak dapat berkecambah adalah dorman atau mati, maka dormansi perlu dipecahkan. Masalah utama yang dihadapi pada saat pengujian daya tumbuh/kecambah benih yang dormansi adalah bagaimana cara mengetahui dormansi, sehingga diperlukan cara-cara agar dormansi dapat dipersingkat.
    Ada beberapa cara yang telah diketahui adalah :
    Dengan perlakuan mekanis.
    Diantaranya yaitu dengan Skarifikasi.
    Skarifikasi mencakup cara-cara seperti mengkikir/menggosok kulit biji dengan kertas amplas, melubangi kulit biji dengan pisau, memecah kulit biji maupun dengan perlakuan goncangan untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus.
    Tujuan dari perlakuan mekanis ini adalah untuk melemahkan kulit biji yang keras sehingga lebih permeabel terhadap air atau gas.
    Dengan perlakuan kimia.
    Tujuan dari perlakuan kimia adalah menjadikan agar kulit biji lebih mudah dimasuki air pada waktu proses imbibisi. Larutan asam kuat seperti asam sulfat, asam nitrat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lebih lunak sehingga dapat dilalui oleh air dengan mudah.
    Sebagai contoh perendaman benih ubi jalar dalam asam sulfat pekat selama 20 menit sebelum tanam.
    Perendaman benih padi dalam HNO3 pekat selama 30 menit.
    Pemberian Gibberelin pada benih terong dengan dosis 100 - 200 PPM.
    Bahan kimia lain yang sering digunakan adalah potassium hidroxide, asam hidrochlorit, potassium nitrat dan Thiourea. Selain itu dapat juga digunakan hormon tumbuh antara lain: Cytokinin, Gibberelin dan iuxil (IAA).
    Perlakuan perendaman dengan air.
    Perlakuan perendaman di dalam air panas dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh benih.
    Caranya yaitu : dengan memasukkan benih ke dalam air panas pada suhu 60 - 70 0C dan dibiarkan sampai air menjadi dingin, selama beberapa waktu. Untuk benih apel, direndam dalam air yang sedang mendidih, dibiarkan selama 2 menit lalu diangkat keluar untuk dikecambahkan.
    Perlakuan dengan suhu.
    Cara yang sering dipakai adalah dengan memberi temperatur rendah pada keadaan lembab (Stratifikasi). Selama stratifikasi terjadi sejumlah perubahan dalam benih yang berakibat menghilangkan bahan-bahan penghambat perkecambahan atau terjadi pembentukan bahan-bahan yang merangsang pertumbuhan.
    Kebutuhan stratifikasi berbeda untuk setiap jenis tanaman, bahkan antar varietas dalam satu famili.
    Perlakuan dengan cahaya.
    Cahaya berpengaruh terhadap prosentase perkecambahan benih dan laju perkecambahan. Pengaruh cahaya pada benih bukan saja dalam jumlah cahaya yang diterima tetapi juga intensitas cahaya dan panjang hari.
    8.Endosperma
    Endosperma, dalam botani, adalah bagian dari biji tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang merupakan hasil dari pembuahan berganda selain embrio. Endosperma dapat dikatakan sebagai "saudara kembar" embrio karena selalu terbentuk bersama namun, berbeda dengan embrio yang diploid, endosperma adalah triploid.
    Endosperma dapat dilihat dengan jelas pada biji-bijian tertentu, seperti padi, jagung, apokat, serta jarak. Fungsinya yang paling utama adalah sebagai penyedia cadangan energi bagi embrio dalam proses perkecambahan. Karena itu, protein penyusunnya adalah albumin, protein yang larut dalam air. Karena fungsinya ini, pada endosperma seringkali terkandung karbohidrat dan lemak. Walaupun demikian, endosperma tidak selalu ditemukan pada biji-biji yang masak. Pada suku kacang-kacangan (Fabaceae) serta sawi-sawian (Brassicaceae) misalnya endosperma tidak ditemukan karena menyusut (rudimenter) dalam perkembangan biji.
    9.fitokrom
    Fitokrom adalah reseptor cahaya, suatu pigmen yang digunakan oleh tumbuhan untuk mencerap (mendeteksi) cahaya. Sebagai sensor, ia terangsang oleh cahaya merah dan infra merah[1] Infra merah bukanlah bagian dari cahaya tampak oleh mata manusia namun memiliki panjang gelombang yang lebih besar daripada merah.
    Fitokrom ditemukan pada semua tumbuhan. Molekul yang serupa juga ditemukan pada bakteri. Tumbuhan menggunakan fitokrom untuk mengatur beberapa aspek fisiologi adaptasi terhadap lingkungan, seperti fotoperiodisme (pengaturan saat berbunga pada tumbuhan), perkecambahan, pemanjangan dan pertumbuhan kecambah (khususnya pada dikotil), morfologi daun, pemanjangan ruas batang, serta pembuatan (sintesis) klorofil.
    Secara struktur kimia, bagian sensor fitokrom adalah suatu kromofor dari kelompok bilin (jadi disebut fitokromobilin), yang masih sekeluarga dengan klorofil atau hemoglobin (kesemuanya memiliki kerangka heme). Kromofor ini dilindungi atau diikat oleh apoprotein, yang juga berpengaruh terhadap kinerja bagian sensor. Kromofor dan apoprotein inilah yang bersama-sama disebut sebagai fitokrom.
    [sunting]Penemuan

    Penelitian rintisan terhadap pengaruh cahaya merah dan merah jauh terhadap pertumbuhan tumbuhan antara 1940-1960 dilakukan oleh Sterling Hendricks dan Harry Borthwick dari Pusat Penelitian Pertanian Beltsville di Maryland, dengan menggunakan spektrograf dari bahan-bahan sisa Perang Dunia Kedua. Dari hasilnya diketahui bahwa cahaya merah memacu perkecambahan dan memicu tanggap untuk pembungaan. Lebih lanjut, cahaya merah jauh berpengaruh sebaliknya terhadap pengaruh cahaya merah. Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa bagian yang peka terhadap rangsang cahaya ini berada di daun.
    Baru pada tahun 1959 Warren Butler, ahli biofisika, dan Harold Siegemman, ahli biokimia, berhasil mengidentifikasi pigmen yang bertanggung jawab untuk gejala ini menggunakan teknik spektrofotometri. Butler menamakan pigmen itu sebagai fitokrom (secara harafiah berarti "zat warna tumbuhan").
    Diperlukan waktu 23 tahun sebelum Peter Quail dan Clark Lagarias melaporkan pemurnian kimiawi fitokrom dari tumbuhan (1983). Selanjutnya, perhatian diarahkan pada struktur dan aspek genetika molekularnya. Sekuens gen fitokrom pertama kali diumumkan pada tahun 1985 oleh Howard Hershey and Peter Quail. Berturut-turut dilaporkan bahwa terdapat bermacam-macam tipe fitokrom, yang dikendalikan oleh gen-gen yang berbeda. Kapri, misalnya, hingga sekarang diketahui memiliki paling sedikit dua tipe, Arabidopsis thaliana memiliki lima gen fitokrom, sementara padi hanya tiga. Jagung memiliki enam gen. Perbedaan-perbedaan itu semua terletak pada bagian apoprotein, sementara senyawa sensor cahayanya tetap sama: fitokromobilin.
    Pada tahun 1996 diketahui adanya gen (disebut Cph1) dari bakteri biru hijau Synechocystis yang agak memiliki kemiripan sekuens dengan gen-gen fitokrom dari tumbuhan. Jon Hughes dari Berlin dan Clark Lagarias dari Universitas California di Davis secara berturut-turut melaporkan bahwa gen ini mengkode "fitokrom", dalam pengertian sebagai kromoprotein yang sensitif terhadap perubahan rangsang cahaya merah/merah jauh. Dari penelitian terhadap Cph1 selanjutnya orang mengetahui bagaimana mekanisme kerja fitokrom. Penggunaan Cph1 lebih ekonomis karena bakteri biru hijau relatif mudah dikerjakan di laboratorium daripada tumbuhan, dan juga lebih produktif. Dalam perkembangan selanjutnya, gen-gen fitokrom ditemukan pula pada prokariot Deinococcus radiodurans dan Agrobacterium tumefaciens. Peran biologi fitokrom pada Synechocystis dan Agrobacterium belum diketahui, sementara bagi Deinococcus fitokrom mengatur produksi pigmen pelindung dari cahaya.
    10.fotorespirasi
    Fotorespirasi adalah sejenis respirasi pada tumbuhan yang dibangkitkan oleh penerimaan cahaya yang diterima oleh daun. Diketahui pula bahwa kebutuhan energi dan ketersediaan oksigen dalam sel juga memengaruhi fotorespirasi. Walaupun menyerupai respirasi (pernafasan) biasa, yaitu proses oksidasi yang melibatkan oksigen, mekanisme respirasi karena rangsangan cahaya ini agak berbeda dan dianggap sebagai proses fisiologi tersendiri.
    [sunting]Proses

    Proses yang disebut juga "asimilasi cahaya oksidatif" ini terjadi pada sel-sel mesofil daun dan diketahui merupakan gejala umum pada tumbuhan C3, seperti kedelai dan padi. Lebih jauh, proses ini hanya terjadi pada stroma dari kloroplas, dan didukung oleh peroksisom dan mitokondria.
    Secara biokimia, proses fotorespirasi merupakan cabang dari jalur glikolat. Enzim utama yang terlibat adalah enzim yang sama dalam proses reaksi gelap fotosintesis, Rubisco (ribulosa-bifosfat karboksilase-oksigenase). Rubisco memiliki dua sisi aktif: sisi karboksilase yang aktif pada fotosintesis dan sisi oksigenase yang aktif pada fotorespirasi. Kedua proses yang terjadi pada stroma ini juga memerlukan substrat yang sama, ribulosa bifosfat (RuBP), dan juga dipengaruhi secara positif oleh konsentrasi ion Magnesium dan derajat keasaman (pH) sel. Dengan demikian fotorespirasi menjadi pesaing bagi fotosintesis, suatu kondisi yang tidak disukai kalangan pertanian, karena mengurangi akumulasi energi.
    Jika kadar CO2 dalam sel rendah (misalnya karena meningkatnya penyinaran dan suhu sehingga laju produksi oksigen sangat tinggi dan stomata menutup), RuBP akan dipecah oleh Rubisco menjadi P-glikolat dan P-gliserat (dengan melibatkan satu molekul air menjadi glikolat dan P-OH). P-gliserat (P dibaca "fosfo") akan didefosforilasi oleh ADP sehingga membentuk ATP. P-glikolat memasuki proses agak rumit menuju peroksisoma, lalu mitokondria, lalu kembali ke peroksisoma untuk diubah menjadi serin, lalu gliserat. Gliserat masuk kembali ke kloroplas untuk diproses secara normal oleh siklus Calvin menjadi gliseraldehid-3-fosfat (G3P).
    [sunting]Kegunaan

    Peran fotorespirasi diperdebatkan namun semua kalangan sepakat bahwa fotorespirasi merupakan penyia-nyiaan energi. Dari sisi evolusi, proses ini dianggap sebagai sisa-sisa ciri masa lampau (relik). Atmosfer pada masa lampau mengandung oksigen pada kadar yang rendah, sehingga fotorespirasi tidak terjadi seintensif seperti masa kini. Fotorespirasi dianggap bermanfaat karena menyediakan CO2 dan NH3 bebas untuk diasimilasi ulang, sehingga dianggap sebagai mekanisme daur ulang (efisiensi). Pendapat lain menyatakan bahwa fotorespirasi tidak memiliki fungsi fisiologis apa pun, baik sebagai penyedia asam amino tertentu (serin dan glisin) maupun sebagai pelindung klorofil dari perombakan karena fotooksidasi.
    Karena tidak efisien, sejumlah tumbuhan mengembangkan mekanisme untuk mencegah fotorespirasi. Untuk menekan fotorespirasi, tumbuhan C4 mengembangkan strategi ruang dengan memisahkan jaringan yang melakukan reaksi terang (sel mesofil) dan reaksi gelap (sel selubung pembuluh, atau bundle sheath). Sel-sel mesofil tumbuhan C4 tidak memiliki Rubisco. Strategi yang diambil tumbuhan CAM bersifat waktu (temporal), yaitu memisahkan waktu untuk reaksi terang (pada saat penyinaran penuh) dan reaksi gelap (di malam hari).
    11.Getah
    Getah adalah istilah umum untuk menyebut cairan kental yang keluar dari tubuh, baik tumbuhan maupun hewan. Namun demikian, penggunaan getah pada hewan terbatas, yaitu untuk menyebut cairan limfa (getah bening).
    Pada tumbuhan, getah adalah segala sesuatu yang bersifat cair dan kental yang keluar dari batang atau daun yang terluka. Dengan demikian tidak dibedakan apakah cairan itu merupakan cairan nutrisi dari pembuluh tapis, lateks, atau resin. Lateks dan resin merupakan cairan yang dihasilkan dari pembuluh khusus. Bagi tumbuhan fungsinya adalah sebagai alat pertahanan diri.
    Lateks dihasilkan oleh banyak tumbuhan anggota bangsa Malpighiales (misalnya suku Apocynaceae dan Euphorbiaceae). Resin, hars, atau cairan damar merupakan cairan kental dan agak transparan yang mengeras bila terkena udara. Resin dihasilkan oleh banyak anggota bangsa Pinales serta sejumlah anggota Dipterocarpaceae dan Burseraceae.
    12.Gutasi
    Gutasi adalah proses pelepasan air dalam bentuk cair dari jaringan daun .[1] Istilah gutasi pertama kali dipakai oleh Burgerstein.[1] Gutasi terjadi saat kondisi tanah sesuai sehingga penyerapan air tinggi namun laju penguapan/ transpirasi rendah maupun ketika penguapan air sulit terjadi karena tingginya kelembaban udara.[1][2] Proses gutasi terjadi pada struktur daun mirip stomata yang bernama hidatoda.[2] Gutasi dapat diamati dengan munculnya tetes-tetes air di tepi daun yang tersusun teratur.[1]
    Tingkat terjadinya gutasi sangat rendah dibandingkan dengan transpirasi.[1] Gutasi juga lebih jarang diobservasi daripada transpirasi.[1] Titik-titik air di tepi daun yang terjadi akibat gutasi di pagi hari sering disalahartikan sebagai embun.[1]
    Daftar isi [sembunyikan]
    1 Mekanisme
    2 Kualitas air hasil gutasi
    3 Perbedaan gutasi dan transpirasi
    4 Efek gutasi bagi tanaman
    5 Referensi
    [sunting]Mekanisme

    Pengeluaran air melalui proses gutasi terjadi akibat adanya tekanan positif akar.[1] Meskipun ketika laju transpirasi rendah, akar terus menyerap air dan mineral sehingga air yang masuk ke jaringan lebih banyak daripada yang dilepaskan keluar.[3] Kondisi yang tidak mendukung terjadinya tekanan akar seperti suhu dingin dan tanah yang kering menghambat terjadinya gutasi.[1] Kekurangan mineral juga diketahui memengaruhi proses gutasi.[1]
    Bila transpirasi terjadi pada stomata, maka gutasi terjadi pada struktur khusus bernama hidatoda.[1] Hidatoda seringkali disebut sebagai stomata air.[1] Hidatoda terletak di ujung dan sepanjang tepi daun.[1] Oleh karena itulah, titik-titik air akan terlihat di ujung dan tepi daun.[1]
    Gutasi biasanya terjadi pada malam hari, namun terjadi juga pada pagi hari.[1] Laju gutasi paling tinggi ditemukan pada tumbuhan Colocasia nymphefolia.[4] Gutasi paling banyak terjadi pada tumbuhan air, herba, dan rumput-rumputan.[4]
    [sunting]Kualitas air hasil gutasi

    Titik-titik air yang keluar dari jaringan daun melalui proses gutasi bukanlah air murni.[1] Berbagai senyawa diketahui terlarut di dalamnya.[1] Beberapa senyawa yang ditemukan terlarut dalam titik-titik air tersebut adalah enzim, gula, asam amino, vitamin, serta mineral seperti P, K, Na, Mg, dan Fe.[1]
    [sunting]Perbedaan gutasi dan transpirasi

    Beberapa perbedaan utama gutasi dan transpirasi adalah:[3]
    Faktor Pembeda Gutasi Transpirasi
    Bentuk air yang dilepaskan Pelepasan air dari jaringan tumbuhan dalam bentuk titik-titik air (cair) Pelepasan air dari jaringan tumbuhan dalam bentuk uap air
    Kualitas air yang dilepaskan Air mengandung senyawa-senyawa terlarut dan garam mineral Air murni
    Mekanisme Air dilepaskan melalui struktur hidatoda menuju ujung pembuluh daun Air dilepaskan melalui stomata, kutikula, dan/atau lentisel
    Regulasi aktivitas Pembukaan hidatoda tidak dapat diregulasi Transpirasi melalui stomata diatur oleh sel penjaga
    Waktu terjadi Pada malam atau pagi hari Pada saat ada sinar matahari (melalui stomata) dan sepanjang hari (melalui kutikula atau lentisel)
    [sunting]Efek gutasi bagi tanaman

    Gutasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kelangsungan hidup tumbuhan.[1] Namun kadangkala, gutasi diketahui dapat menyebabkan luka pada daun.[1] Hal ini diakibatkan oleh penumpukan garam yang terjadi bila titik-titik air di tepi daun telah menguap.[1] Kondisi tersebut membuat patogen seperti bakteri dan fungi dapat menyerang jaringan daun
    13.Klorfil
    Klorofil adalah kelompok pigmen fotosintesis yang terdapat dalam tumbuhan, menyerap cahaya merah, biru dan ungu, serta merefleksikan cahaya hijau yang menyebabkan tumbuhan memperoleh ciri warnanya. Terdapat dalam kloroplas dan memanfaatkan cahaya yang diserap sebagai energi untuk reaksi-reaksi cahaya dalam proses fotosintesis.
    Klorofil A merupakan salah satu bentuk klorofil yang terdapat pada semua tumbuhan autotrof. Klorofil B terdapat pada ganggang hijau chlorophyta dan tumbuhan darat. Klorofil C terdapat pada ganggang coklat Phaeophyta serta diatome Bacillariophyta. Klorofil d terdapat pada ganggang merah Rhadophyta. Akibat adanya klorofil, tumbuhan dapat menyusun makanannya sendiri dengan bantuan cahaya matahari.
    14.Kromofor
    Kromofor (chromophore) adalah bagian dari pigmen yang paling sensitif terhadap rangsangan cahaya. Kromofor berfungsi sebagai antena, alat penangkap gelombang elektromagnetik pada panjang gelombang tertentu. Suatu panjang gelombang spektrum tertentu dapat merangsang perubahan struktur molekul kromofor karena molekul itu "tereksitasi". Perubahan struktur ini mengakibatkan pelepasan energi/elektron. Energi atau elektron yang terlepas ini lalu ditangkap oleh sistem pembawa signal (signaling) yang pada akhirnya memicu dihasilkannya sejumlah enzim bagi suatu proses biokimia tertentu.
    Pada tumbuhan, kromofor selalu merupakan molekul dengan kerangka heme, seperti pada fitokrom dan klorofil.
    15.Kutila tumbuhan
    Kutikula tumbuhan adalah lapisan pelindung pada seluruh sistem tajuk (bagian tumbuhan yang berada di atas tanah) tumbuhan herba yang berfungsi untuk memperlambat kehilangan ai dari daun, batang, bunga, buah, dan biji.[1] Tanpa lapisan pelindung ini, transpirasi (hilangnya uap air melalui permukaan tumbuhan) pada hampir semua tumbuhan berlangsung sangat cepat sehingga tumbuhan akan mati.[1] Kutikula merupakan perlindungan terhadap beberapa patogen tumbuhan dan terhdap kerusakan kecil mekanis.[1][2] Kutikula juga penting dalam pertanian karena sifatnya yang menolak dapat digunakan ada berbagai semprotan yang mengandung fungisida, herbisida, insektisida, atau zat pengatur tumbuh.[1] Karena sifat hidrofobik (menolak air) kutikula, sebagian besar formulasi semprotan mengandung deterjen untuk menurunkan tegangan permukaan air sehingga butir semprotan menyebar pada permukaan daun.[1]
    Sebagian besar kutikula terdiri dari campuran berbagai macam komponen yang disebut kutin sedangkan sisanya mengandung lilin lapisan penutup dan polisakarida pektin yang menempel pada dinding sel].[1] Kutin merupakan polimer heterogen yang terdiri dari terutama berbagai kombinasi anggota dua kelompok asam lemak, yang satu mempunyai 16 karbon] dan yang satunya memiliki 18 karbon.[1] Lilin kutikula meliputi berbagai hidrokarbon rantai panjang yang juga mempunyai sedikit oksigen.[1] Banyak lilin yaag mengandung asam lemak rantai panjang teresterifikasi dengan alkohol monohidrat rantai panjang, tapi lilin juga mengandung alkohol, aldehida, dan keton berantai panjang bebas
    16.Kutin
    Kutinadalah polimer heterogen yang terdiri dari terutama berbagai kombinasi anggota dua kelompok asam lemak, satu kelompok mempunyai 16 karbon dan satunya 18 karbon.[1] [2] Sebagian besar asam lemak tersebut mempunyai dua atau lebih gugus hidroksil, serupa dengan asam risinoleat.[1] Sifat polimer kutin timbul dari ikatan ester yang menggabungkan gugus hidroksil dan gugus karboksil dalam berbagai asam lemak.[1] Sedikit senyawa fenol juga terdapat pada kutin, dan diperkirakan tertempel oleh ester menghubungkan asam lemak dengan pektin dari dinding sel epidermis.[1] Kutin merupakan salah satu komponen penyusun kutikula tumbuhan selain lilin lapisan penutup dan polisakarida pektin yang menempel pada dinding sel.[1] Kutin serupa dengan suberin karena keduanya memiliki fraksi poliester lipid utama, tapi suberin memiliki lebih banyak fraksi fenol dan dalam hal jenis asam lemaknya
    17.Lateks
    Lateks adalah getah kental, seringkali mirip susu, yang dihasilkan banyak tumbuhan dan membeku ketika terkena udara bebas. Selain tumbuhan, beberapa hifa jamur juga diketahui menghasilkan cairan kental mirip lateks. Pada tumbuhan, lateks diproduksi oleh sel-sel yang membentuk suatu pembuluh tersendiri, disebut pembuluh lateks. Sel-sel ini berada di sekitar pembuluh tapis (floem) dan memiliki inti banyak dan memproduksi butiran-butiran kecil lateks di bagian sitosolnya. Apabila jaringan pembuluh sel ini terbuka, misalnya karena keratan, akan terjadi proses pelepasan butiran-butiran ini ke pembuluh dan keluar sebagai getah kental. Lateks terdiri atas partikel karet dan bahan bukan karet (non-rubber) yang terdispersi di dalam air [1]. Lateks juga merupakan suatu larutan koloid dengan partikel karet dan bukan karet yang tersuspensi di dalam suatu media yang mengandung berbagai macam zat [2]. Di dalam lateks mengandung 25-40% bahan karet mentah (crude rubber) dan 60-75% serum yang terdiri dari air dan zat yang terlarut. Bahan karet mentah mengandung 90-95% karet murni, 2-3% protein, 1-2% asam lemak, 0.2% gula, 0.5% jenis garam dari Na, K, Mg, Cn, Cu,Mn dan Fe. Partikel karet tersuspensi atau tersebar secara merata dalam serum lateks dengan ukuran 0.04-3.00 mikron dengan bentuk partikel bulat sampai lonjong
    18.Meristem
    Meristem adalah jaringan pada tumbuhan berwujud sekumpulan sel-sel punca yang aktif melakukan pembelahan sel. Jaringan ini mudah ditemukan pada bagian titik-titik tumbuh batang maupun akar. Meristem di bagian ini disebut sebagai meristem primer, karena mengawali pertumbuhan biomassa. Meristem juga ditemukan pada bagian batang dan akar, membentuk kambium. Terdapat dua jenis kambium pada batang yaitu kambium vaskular dan kambium gabus (felogen). Keduanya bertanggung jawab atas pertumbuhan sekunder (ke samping) yang dialami tumbuhan dan disebut meristem sekunder.
    Jaringan meristematik dapat diinduksi (dirangsang) pembentukannya, baik dengan melukai suatu bagian tubuh tumbuhan maupun dalam kultur buatan (dengan kultur jaringan). Jaringan meristematik yang terbentuk karena induksi ini dinamakan kalus.
    Meristem pucuk dan kambium biasanya adalah bagian yang paling mudah diinduksi untuk memperbanyak diri pada kultur jaringan.
    19.Metabolit sekunder
    Metabolit sekunder adalah senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara spesies yang satu dan lainnya.[1] Setiap organisme biasanya menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang berbeda-beda, bahkan mungkin satu jenis senyawa metabolit sekunder hanya ditemukan pada satu spesies dalam suatu kingdom. Senyawa ini juga tidak selalu dihasilkan, tetapi hanya pada saat dibutuhkan saja atau pada fase-fase tertentu. Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi hama dan penyakit, menarik polinator, dan sebagai molekul sinyal.[1] Singkatnya, metabolit sekunder digunakan organisme untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
    20.Pepagan
    Pepagan atau kulit kayu adalah lapisan terluar batang dan akar tumbuhan berkayu. Dalam istilah teknis, pepagan merujuk pada seluruh bagian di luar jaringan kambium. Pepagan menutupi kayu dan terdiri atas bagian dalam dan luar. Bagian dalam, yang pada batang dewasa merupakan jaringan hidup, termasuk daerah terdalam periderm. Lapisan luar pada tangkai tua termasuk jaringan permukaan tangkai yang mati, bersama dengan bagian-bagian periderm terdalam dan seluruh jaringan di sisi luar periderm. Lapisan luar pada pohon juga disebut rhitidoma.
    Produk-produk yang digunakan orang yang berasal dari pepagan termasuk
    rempah-rempah dan bumbu, seperti kulit manis, gabus;
    bahan industri, seperti damar, lateks, penyamak;
    bahan pengobatan dan racun, seperti kina, tuba;
    tonikum dan stimulans, seperti kava;
    bahan pakaian dan tali-temali;
    alat transportasi, misalnya kano
    alas untuk melukis dan membuat peta.
    21.Peronaan

    Peronaan dalam kedokteran merupakan gejala memerahnya kulit tubuh (terutama di bagian wajah dan leher) secara cepat akibat percepatan aliran darah di bagian pembuluh darah kapiler di dekat kulit. Perangsang gejala ini dapat bersifat emosional (karena rasa malu atau tegang) maupun fisis karena aktivitas yang tinggi. Laki-laki yang mengalami orgasme juga dapat menunjukkan gejala ini pada tubuh bagian atas.
    Dalam istilah teknis kedokteran, peronaan dikenal sebagai flush (R32.2 menurut klasifikasi ICD-10). Meskipun demikian, ia biasa dibedakan menjadi blushing dan flushing menurut penyebab dan cakupan pemerahan kulit. Blushing merupakan peronaan di bagian wajah dan sekitarnya karena perasaan malu yang muncul atau hal-hal emosional lain semacamnya. Flushing memiliki cakupan wilayah peronaan lebih luas, biasanya diikuti dengan keluarnya keringat. Penyebabnya dapat berupa rasa amarah, kenikmatan (pada orgasme), rasa kepedasan, burning pada menopause, atau akibat konsumsi substansi kimia tertentu seperti amilnitrit.
    Kosmetik juga mengenal bubuk untuk memberi aksen merah pada bagian wajah tertentu, yang dikenal sebagai "perona" (blush atau rouge).
    Di bidang botani, istilah "peronaan" (flushing) dipakai untuk menyebut gejala tumbuhnya daun-daun baru bersama-sama secara musiman setelah berakhirnya musim berbuah. Berbagai tumbuhan tropis, seperti mangga, rambutan, dan durian memperlihatkan perilaku ini.
    22.Plasmodesmata
    Plasmodesmata (bentuk jamak dari, plasmodesma) adalah suatu saluran terbuka pada dinding sel tumbuhan melalui mana benang sitosol terhubung dari sel-sel tetangganya.[1] Sitoplasma lewat melintasi plasmodemata dan menghubungkan kandungan hidup sel yang bersebelahan.[1] Ini akan menyatukan sebagian besar bagian tumbuhan itu menjadi satu rangkaian hidup.[1] Membran plasma sel yang bersebelahan bersambungan melalui plasmodesmata.[1] Air dan zat terlarut yang berukuran kecil dapat lewat secara leluasa dari sel ke sel.[1] Cara transportasi tersebut dinamakan simplas.[1] Dalam keadaan tertentu, molekul protein khusus dan RNA dapat juga melakukan hal seperti itu.[1] Plasmodesmata telah dapat dilihat sejak berabad-abad lalu, tapi struktur rincinya baru dapat dipelajari setelah berkembangnya mikroskop elektron.[2] Plasmodesmata tampak seperti terowongan yang terjadi dari perluasan membran plasma dari sejumlah sel yang bersebelahan dan berisi sebuah tabung berdiameter lebih kurang 40 nm
    23.poliamin
    Poliamin merupakan kation polivalen yang mengandung dua gugus amino atau lebih, termasuk asam amino lisin dan arginin. [1] Di antara poliamin yang paling banyak jumlahnya dan palin gaktif secara fisiologis adalah putresin (NH2(CH2)4NH2), kadaverin (NH2(CH2)5NH2), spremidin (NH2(CH2)3NH(CH2)4NH2), dan [[spremin (NH2(CH2)3NH(CH2)4NH(CH2)3NH2).[1] Senyawa ini terdapat dalam bentuk bebas atau terikat pada berbagai senyawa fenol seperti gugus kumaril dan gugus kafeoil.[1]
    Berbeda dengan hormon yang sering terdapat dalam konsentrasi mikromol, poliamin sering terdapat dalam konsetrasi milimol. [1] beberapa efek fisiologisnya antara lain: mendorong pembelahan sel, memantapkan membran sel, memantapkan protoplas (sel tanaman yang sudah tidak memilki dinding sel), mendorong perkembangan beberapa buah memerkecil gangguan akibat kekurangan air pada berbagai macam sel, serta menunda penuaan pada daun yang dipetik.[2]
    Gugus amino poliamin yang bermuatan positiff menyebabkan poliamin dapat bergabung dengan gugus fosfat yang bermuatan negatif DNA dan RNA dalam inti dan ribosom.[1] Akibat penggabungan ini, poliamin sering meningkatkan transkripsi DNA dan translasi RNA pada sel tumbuhan dan sel hewan
    24.Rubisco
    Ribulosa-1,5-bisfosfat karboksilase-oksigenase, disingkat Rubisco (dari nama bahasa Inggrisnya), adalah enzim raksasa yang berperan sangat penting dalam reaksi gelap fotosintesis tumbuhan. Enzim inilah yang menggabungkan molekul ribulosa-1,5-bisfosfat (RuBP, kadang-kadang disebut RuDP) yang memiliki tiga atom C dengan karbondioksida menjadi atom dengan enam C, untuk kemudian diproses lebih lanjut menjadi glukosa, molekul penyimpan energi aktif utama pada tumbuhan.
    Enzim ini sangat banyak dikandung oleh sel-sel daun dan merupakan salah satu protein yang paling banyak dihasilkan di dunia.
    Rubisco merupakan enzim dengan empat gugus polipeptida besar yang mirip dan empat gugus polipeptida kecil yang juga mirip satu sama lain. Ia memiliki dua sisi aktif yang saling bersaing untuk dua reaksi yang bertolak belakang. Sisi karboksilase, yang berfungsi pada fotosintesis, dan sisi oksigenase, yang bertanggung jawab dalam fotorespirasi. Kedua reaksi ini memerlukan RuBP sebagai substratnya.
    Dilihat dari komposisi asam amino penyusunnya, Rubisco sangatlah konservatif, dalam arti tidak banyak mengalami perubahan dalam urutan asam amino ataupun basa N dari gen-gen pengkodenya. Gen-gen Rubisco berlokasi di plastida.
    25.Simplas
    Simplas adalah kontinum sitoplasma yang berhubungan oleh plasmodesmata pada tumbuhan dan berfungsi untuk mengangkut air dan mineral dari akar ke xilem.[1]Proses penyerapan air dan zat hara dalam akar tumbuhan dapat melalui dua jalan, yaitu di luar pembuluh dan di dalam pembuluh.[2] Pengangkutan di luar pembuluh terbagi menjadi apoplas dan simplas.[3] Simplas mencakup sitoplasma semua sel tumbuhan dan vakuola.[2] Simplas merupakan satu unit karena protoplas sel yang berdampingan saling berhubungan melalui plasmodesmata.[2] bahan seperti glukosa dapat melewati plasmodesmata dari sel ke sel ribuan kali lebih cepat daripada dengan menembus membran dan dinding sel.[2] Tapi partikel yang lebih besar dari 10 nm tidak dapat melewati plasmodesmata
    26.Suberin
    Suberin adalah lapisan pelindung bagian tumbuhan di bawah tanah.[1] Suberin juga melindungi sel gabus yang terbentuk pada kulit pohon oleh kegiatan penghancuran dari pertumbuhan sekunder, dan ini terbentuk dari banyak sel sebagai jaringan luka setelah pelukaan (misalnya setelah gugur daun dan pada luka umbi kentang yang akan ditanam).[1] Suberin juga terdapat pada dinding sel akar yang tak terluka sebagai pita Caspari di endodermis dan eksodermis serta di seludang berkas pembuluh pada rerumputan.[1] Tumbuhan membentuk suberin bila perubahan secara fisiologis atau perubahan perkembangan, atau faktor cekaman, menyebabkan tumbuhan perlu menghambat difusi.[2] Tapi pada tingkat molekul, kejadian yang menyebabkan terbentuknya suberin belum diketahui.[1] Bagian lipid yang berlilin (sampai dengan setengah total suberin) adalah campuran kompleks asam lemak rantai panjang, asam lemak terhidroksi, asam dikarboksilat, dan alkohol rantai panjang.[1] Sebagian besar kelompok ini mempunyai lebih dari 16 atom karbon.[1] Suberin selebihnya mengandung senyawa fenol dengan asam ferulat sebagai komponen utamanya.[1] Seperti pada kutin, fenol ini diperkirakan mengikatkan fraksi lipid dari suberin ke dinding sel.[1] Jadi suberin serupa dengan kutin karena keduanya memiliki fraksi poliester lipid utama, tapi suberin memiliki lebih banyak fraksi fenol dalam hal jenis asam lemaknya
    27.TRiakontanol
    Triakontanol (TRIA) adalah alkohol primer jenuh yang terdiri dari 30 karbon dan pertama kali diisolasi dari tajuk (bagian pohon di batang) alfalfa. [2] Senyawa tersebut sangat tak larut dalam air (kurang dari 2x10-16M atau 9x10-14 g/l) dan dalam bentuk suspensi koloid meningkatkan secara nyata pertumbuhan tanaman jagung, tomat dan padi, bila disemprotkan pada daun kecambah pada konsentrasi rendah. [3]. Mekanisme kerja triakontanol belum sepenuhnya diketahui, tetapi zat tersebut potensial untuk meningkatkan hasil tanaman.[3] Triakontanol telah terdaftar pada tahun 1991 di badan perlindungan lingkungan Amerika atau Environmental Protection Agency (EPA) dengan fungsi meningkatkan rasio gula:asam pada tanaman jeruk [4]
    Triakontanol telah digunakan secara komersial pada jutaan hektar tanah untuk meningkatkan produksi pertanian khususnya di Cina, India, Ceylon, dan Indonesia. [4] Triakontanol juga dapat meningkatkan produksi teh (Camellia sinensi L.)
    28.Tumbuhan hijau abadi
    Tumbuhan hijau abadi (bahasa Inggris: evergreen plants) adalah tumbuhan yang tidak menggugurkan seluruh daunnya secara serentak pada suatu musim atau kondisi lingkungan tertentu. Walaupun kebanyakan adalah pepohonan, tumbuhan berperilaku semacam ini juga dapat berupa terna.
    Hutan yang didominasi oleh tumbuhan semacam ini dinamakan hutan hijau abadi. Hutan hujan tropis adalah hutan dengan tipe ini, dengan pohon berlapis-lapis dan terna di dasar hutan yang berdaun lebar. Di daerah beriklim sedang, hutan tumbuhan runjung mendominasi hutan hijau abadi.
    29.Tumbuhan Peluruh
    Tumbuhan peluruh atau tumbuhan gugur merupakan sebutan bagi tumbuhan, terutama pepohonan, yang menggugurkan daun-daunnya pada musim atau keadaan iklim tertentu. Tumbuhan peluruh dapat mendominasi suatu vegetasi (penutup permukaan bumi) dan membentuk bioma hutan peluruh atau hutan gugur.
    Di daerah beriklim sedang, seperti di Eropa bagian Tengah, tumbuhan peluruh menggugurkan daunnya pada musim gugur (nama musim ini diambil dari ciri khas hutan-hutan demikian), di saat suhu udara rata-rata menurun. Perubahan warna daun akibat perombakan klorofil terjadi hampir serentak sehingga warna hutan menjadi kuning, merah, atau coklat akibat warna dedaunan yang mengering. Suhu yang meningkat di penghujung musim dingin akan memicu munculnya daun-daun baru, seringkali diawali dengan bermunculannya bunga terlebih dahulu.
    Di daerah tropika dengan musim kering yang jelas, pepohonan menggugurkan daunnya di saat curah hujan berkurang. Pengguguran ini dapat sebagian maupun seluruhnya. Jati, misalnya, akan menggugurkan semua daunnya. Pengguguran daun akan mengurangi transpirasi di musim kemarau dan dianggap sebagai mekanisme penghematan energi.
    [sunting]Hutan peluruh iklim sedang

    Bioma hutan peluruh (deciduous forest) adalah hutan dengan ciri tumbuhannya sewaktu musim dingin, daun-daunnya meranggas. Bioma ini dapat dijumpai di Amerika Serikat, Eropa Barat, Asia Timur, dan Cile.
    Bioma ini terbentuk pada wilayah dengan ciri-ciri curah hujan merata sepanjang tahun (75 - 100 cm per tahun), mempunyai empat musim, dan keanekaragaman jenis tumbuhan jauh lebih rendah daripada bioma hutan tropis.
    Musim panas pada bioma hutan gugur, energi radiasi matahari yang diterima cukup tinggi, demikian pula dengan presipitasi (curah hujan) dan kelembaban. Kondisi ini menyebabkan pohon-pohon tinggi tumbuh dengan baik, tetapi cahaya masih dapat menembus ke dasar, karena dedaunan tidak begitu lebat tumbuhnya. Konsumen yang ada di daerah ini adalah serangga, burung, bajing, dan racoon yaitu hewan sebangsa luwak/musang.
    Pada saat menjelang musim dingin, radiasi sinar matahari mulai berkurang, suhu mulai turun. Tumbuhan mulai sulit mendapatkan air sehingga daun menjadi merah, coklat akhirnya gugur, sehingga musim itu disebut musim gugur.
    Pada saat musim dingin, tumbuhan gundul dan tidak melakukan kegiatan fotosintesis. Beberapa jenis hewan melakukan hibernasi (tidur pada musim dingin).

0 komentar:

Poskan Komentar

Blogger news